Ada jenis game horor yang bikin kamu tidak bisa tidur karena mikirin endingnya, dan ada yang bikin kamu tidak bisa tidur karena mikirin kenapa kamu buang waktu 30 menit. Psalm 5:9-13 masuk kategori kedua buat saya. Saya tumbuh besar di era warnet dengan segudang game FPS, balapan, dan co-op, jadi saya biasanya skeptis kalau ada game horor indie yang hanya mengandalkan atmosfer. Tapi saya tetap memberi kesempatan, berharap mungkin ada sesuatu yang bisa bikin saya terkesan. Hasilnya? Saya malah tersenyum kecut.

Game ini membuka dengan kamu tersadar di sebuah rumah gelap, hanya bermodalkan kamera VHS yang menunjukkan pandangan pertama. Tidak ada dialog pembuka, tidak ada tutorial besar-besaran. Kamu cuma bisa berjalan dan mengarahkan kamera ke objek yang tampak aneh. Begitu kamera fokus ke tengkorak, makhluk di balik pintu, atau benda grotesk lainnya, pintu terbuka dan kamu lanjut ke ruangan berikutnya. Pada awalnya, itu terasa menarik. Efek VHS-nya sangat kental: garis pindai, butiran film, aspek rasio 3:2. Suasana rumahnya gelap, sunyi, dan penuh dengan detail-detail kecil yang bikin merinding. Saya sempat berpikir, "Oh, ini mungkin mirip game horor klasik yang seru." Tapi perasaan itu tidak bertahan lama.

Masalah terbesar Psalm 5:9-13 adalah gameplay-nya. Kalau kamu bilang ini puzzle horror, saya akan tertawa. Hampir semua 'teka-teki' hanya sebatas menemukan objek yang harus dilihat lewat kamera. Kadang kamu harus memotret makhluk yang lewat, kadang kamu harus menemukan tengkorak di antara kegelapan, dan setelah itu pintu terbuka. Tidak ada mekanik yang lebih dalam, tidak ada pengelolaan inventaris, tidak ada keputusan yang memengaruhi jalan cerita. Dua puzzle yang punya sedikit 'substansi' pun masih sangat mudah. Saya tidak perlu berpikir, hanya perlu melihat ke sekeliling sampai sesuatu yang bisa di-scan muncul di layar. Ini bukan game yang menguji refleks, ketelitian, atau otak. Ini lebih seperti tur museum horor yang harus kamu selesaikan sendirian.

Karena itu, jam bermain saya cuma sekitar tiga puluh menit… dan itu sudah termasuk nyari-nyari benda yang nyempil. Ya, game ini sangat pendek. Saya selesai dalam sekali duduk, lalu duduk diam selama lima menit menatap layar kredit. Bukan karena terharu, tapi karena bingung. "Hah? Udah selesai?" Ya, sudah. Bagi sebagian orang, durasi singkat bukan kelemahan kalau pengalaman yang disajikan benar-benar membekas. Tapi bagi saya, yang biasa main game kompetitif dengan mode multiplayer, battle pass, dan progression system, game yang tidak menawarkan alasan untuk kembali lagi itu seperti makan kerupuk tanpa sambal. Tidak ada. Setelah selesai, saya tidak punya dorongan untuk memainkannya lagi. Tidak ada collectible yang menarik, tidak ada mode tambahan, tidak ada pencapaian yang membuat saya ingin menghabiskan waktu lagi di rumah itu. Saya langsung menghapusnya dari library dan lanjut ke game lain yang lebih bisa menemani saya semalam suntuk.

Jangan salah, atmosfernya memang berhasil. Secara visual, game ini sangat efektif menggunakan gaya VHS. Gambar yang buram, warna yang kusam, dan scanlines membuat semuanya terasa seperti rekaman nyata dari tahun 90-an. Ada beberapa momen di mana saya benar-benar merasa tidak nyaman, terutama saat harus memfokuskan kamera ke wajah makhluk yang muncul tiba-tiba. Efek suaranya juga mendukung: suara langkah di lantai kayu, detak jantung, dan bisikan-bisikan kecil bikin bulu kuduk saya berdiri. Tapi seperti yang saya katakan, atmosfer yang baik tidak bisa berdiri sendiri tanpa mekanik yang membuat saya terus terlibat. Saya juga harus akui bahwa beberapa jumpscare di game ini benar-benar berhasil. Mungkin karena saya tidak mengharapkan apa-apa, atau karena timing-nya pas, tapi ada beberapa momen di mana saya benar-benar terlonjak dari kursi. Namun, setelah jumpscare keempat atau kelima, pola itu jadi bisa ditebak. Kamu mulai tahu kapan game akan mencoba menakuti kamu, dan sensasi itu berubah dari "kaget" menjadi "gangguan". Malah, saya merasa game ini terlalu mengandalkan kejutan instan daripada membangun ketegangan secara perlahan. Padahal, horor terbaik justru yang bisa membuat kamu takut bahkan ketika tidak ada yang terjadi di layar. Di sini, setelah beberapa menit, saya malah berharap ada sesuatu yang terjadi supaya tidak bosan.

Dari segi cerita, saya tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mungkin itu maksudnya, karena game ini terasa seperti fragmentasi mimpi buruk. Ada banyak simbol dan objek aneh, tapi tidak pernah dijelaskan. Judulnya sendiri diambil dari ayat Alkitab? Mungkin. Tapi tidak ada penjelasan di dalam game. End-nya jelas anti-klimaks. Tiba-tiba kredit muncul, tanpa resolusi yang memuaskan, tanpa jawaban atas pertanyaan yang bahkan belum sempat saya rumuskan. Saya tidak menuntut semua game horor punya narasi yang jelas, tapi kalau kamu menawarkan misteri, setidaknya beri saya sesuatu untuk dipikirkan setelah selesai. Yang saya dapat justru perasaan "oh, gitu doang."

Sekarang, mari saya bicara sebagai orang yang memang suka grinding. Saya tahu saya bukan target audiens game ini. Saya suka game yang memberi reward kecil-kecil, membuka skill baru, atau menguji kemampuan saya dalam pertandingan. Di game ini, tidak ada sistem progression sama sekali. Kamu tidak menjadi lebih kuat, tidak mendapat item baru, tidak ada pohon skill. Yang ada hanya gerakan maju dari satu ruangan ke ruangan lain. Mungkin ini memang pilihan desain yang disengaja, tapi bagi saya, itu membuat pengalaman terasa seperti berjalan di lorong gelap yang tidak punya tujuan. Kalau kamu ingin membuat game horor yang minim mekanik, setidaknya buat arahannya jelas atau beri sesuatu yang membuat saya penasaran. Sayangnya, Psalm 5:9-13 gagal membuat saya peduli.

Soal kontrol, game ini cukup sederhana. Kamu bisa menggerakkan karakter dengan analog kiri dan mengarahkan kamera dengan analog kanan. Ada tombol untuk fokus dan interaksi. Tidak ada yang rumit. Tapi saya merasa gerakannya lambat dan kaku. Mungkin itu disengaja, untuk memberikan kesan "kamera VHS yang berat", tapi saya tidak bisa menahan diri untuk berpikir bahwa hal ini justru membuat eksplorasi terasa lamban, terutama saat harus kembali menyusuri ruangan yang sudah pernah saya lewati. Untungnya, tidak ada bug atau masalah teknis yang saya temui selama bermain di PS5. Tapi karena game ini sangat sederhana, saya juga tidak mengharapkan banyak hal teknis. Lancar? Ya. Tapi bukan sesuatu yang membuat saya berseru kagum.

Saya sempat berpikir, apa mungkin game ini punya maksud yang lebih dalam? Mungkin kamu harus membaca doa tertentu atau mencari lore dari objek-objek tersembunyi? Saya berkeliling rumah tiga kali, memotret semua yang bisa dipotret, dan tidak ada yang berubah. Tidak ada jalan pintas, tidak ada rahasia, tidak ada 'true ending'. Selesai ya selesai. Bicara soal lingkungan, rumahnya sebenarnya kecil. Mungkin hanya lima-enam ruangan besar, tapi karena harus bolak-balik, terasa lebih luas dari seharusnya. Sayangnya, tidak ada yang menarik untuk ditemukan. Semua objek yang bisa di-spot hanya berfungsi sebagai 'kunci' untuk membuka pintu. Tidak ada catatan yang menjelaskan sejarah rumah, tidak ada surat yang membangun lore. Kamu cuma melihat gambar-gambar aneh dan membiarkannya membiarkanmu lewat.

Saya juga ingin menyoroti aspek audio. Mungkin karena game ini pendek, mereka tidak sempat membuat banyak variasi. Sepanjang permainan, musik latar nyaris tidak ada, digantikan oleh efek suara lingkaran yang repetitif. Suara detak jantung yang muncul saat ada ancaman memang efektif sekali, tapi setelah beberapa kali saya malah mual. Ini bukan kritik yang fatal, tapi menunjukkan bahwa elemen pendukung pun tidak dibangun dengan maksimal. Ada satu atau dua momen di mana suara memang menjadi bagian penting dari jumpscare, tapi setelah itu kembali menjadi burung hantu yang berteriak di kegelapan.

Ada satu hal yang membuat saya sedikit menghargai game ini: durasinya yang singkat justru mungkin cocok untuk orang yang ingin mencoba dan tidak punya banyak waktu. Kalau kamu sedang mencari pengalaman horor singkat di tengah malam, mungkin kamu bisa mendapatkan beberapa menit ketegangan yang layak. Namun, itu juga berarti kamu membayar untuk sesuatu yang tiga puluh menit kemudian sudah selesai dan terlupakan. Saya tidak bilang semua game harus panjang, tapi saya percaya bahwa game yang singkat harus mampu meninggalkan kesan yang kuat. Game seperti What Remains of Edith Finch, atau bahkan beberapa game horor pendek lainnya, bisa membuat saya termenung berhari-hari. Psalm 5:9-13 justru membuat saya lupa wajah tokoh utamanya dalam hitungan jam.

Saya juga mau bicara soal harga. Saya tidak tahu pasti berapa harga di pasar Indonesia, tapi sebagai game indie budget, saya bisa memaklumi biayanya yang murah. Sayangnya, "murah" tidak berarti "tidak rugi". Banyak game murah yang menawarkan jam bermain yang padat. Game ini menawarkan satu setengah episode horror yang bisa diselesaikan sambil minum kopi. Kalau kamu beli di diskon, mungkin tidak masalah. Tapi kalau kamu mencarinya dengan harga normal, kamu mungkin merasa seperti saya: tersenyum kecut saat kredit muncul.

Mungkin kamu berpikir saya terlalu keras. Mungkin ada orang yang menikmati game horor singkat yang mengutamakan suasana tanpa perlu mekanik yang rumit. Saya tidak menutup kemungkinan itu. Tapi sebagai penulis di Indogamia, saya harus jujur pada preferensi saya: saya mencari game yang bisa membuat saya ketagihan, yang bisa saya mainkan lagi dan lagi, yang membuat saya membahas strateginya bersama teman. Psalm 5:9-13 bukan game itu. Ia lebih seperti satu bab pendek dari novel horor yang menarik, tapi halaman-halamannya terlalu cepat habis dan tidak ada sekuel yang jelas.

Apakah ada nilai positif yang bisa saya ambil? Ada. Estetika VHS-nya benar-benar menonjol. Ini bisa menjadi inspirasi bagi banyak developer indie lain yang ingin membuat game horor low-budget. Desain suaranya juga patut diapresiasi, karena meskipun minim musik, ia berhasil membangun suasana yang mencekam. Beberapa jumpscare-nya juga dieksekusi dengan baik. Namun, semua elemen positif itu hanya berlayar di permukaan; di bawahnya tidak ada kedalaman yang bisa saya pegang. Game ini seperti kerupuk yang enak dimakan sekali, tapi setelah itu perut saya tetap lapar.

Saya mencoba mencari alasan untuk merekomendasikannya. Mungkin jika kamu sudah punya semua game horor lain dan sedang mencari pelengkap koleksi, game ini bisa jadi pengisi waktu. Mungkin jika kamu sedang mencari game yang bisa dimainkan sambil maraton horor bersama teman (sambil menonton giliran), ini bisa jadi selingan yang seru. Tapi begitu kamu selesai, tidak ada yang bisa kamu ceritakan selain "tadi aku diketakin game". Tidak ada momen yang benar-benar melekat, tidak ada adegan yang membuat saya ingin membicarakannya di grup Discord. Bahkan game horor yang buruk pun sering meninggalkan kesan karena kegagalannya; game ini justru meninggalkan kekosongan.

Pada akhirnya, Psalm 5:9-13 adalah bukti bahwa atmosfer dan gaya saja tidak cukup untuk membuat game yang menarik. Saya tidak menyesal memainkannya, karena saya jadi bisa menulis review ini. Tapi jika ditanya apakah saya akan merekomendasikannya, saya akan ragu. Kecuali kamu memang penggemar berat horor VHS dan tidak masalah dengan pengalaman yang super singkat, kamu bisa mencobanya saat diskon. Tapi jangan berharap banyak. Saya sudah dicap sebagai tukang pujasuka game co-op, tapi game ini bahkan gagal membuat saya ingin bermain lagi sendirian. Apakah itu berarti game ini buruk? Tidak juga. Tapi ia terlalu dangkal untuk bisa disebut bagus.

Leave your vote

100k Points
Upvote Downvote