Jujur, auto-battler bukan genre yang biasanya bikin saya betah duduk lama. Saya tipe pemain yang butuh merasakan langsung setiap keputusan yang terjadi dalam sepersekian detik, dan menyerahkan pertarungan ke mesin lalu menontonnya dari kursi penonton selalu terasa seperti kehilangan separuh keseruannya. Tapi Order Automatica, karya terbaru New Beings, berhasil menahan saya di depan layar jauh lebih lama dari yang saya perkirakan dan penyebab utamanya justru papan kecil berukuran tiga kali tiga yang awalnya saya anggap sebagai kelemahan.
Premisnya sederhana: sembilan slot, satu grid ritual, pasukan kecil yang harus Anda susun sebelum pertarungan dimulai. Setiap kotak punya nomor yang menentukan urutan serangan, jadi menempatkan unit bukan cuma soal siapa melawan siapa, tapi soal siapa yang memukul lebih dulu dan siapa yang jadi tameng. Di auto-battler lain saya terbiasa dengan papan luas dan belasan pilihan; di sini ruangnya sempit dan tidak ada satu slot pun yang bisa dibuang. Setiap kali saya menggeser satu unit satu petak, konsekuensinya langsung terasa: sebuah sinergi adjacency mati, atau jalur serangan musuh jadi terbuka. Itu sebabnya fase persiapan justru jadi bagian paling menegangkan dari permainan ini, dan durasi run yang relatif pendek membuat saya nekat mencoba satu formasi lagi tanpa merasa membuang waktu.
Yang bikin saya makin betah, grid musuh sudah terlihat sebelum bertarung. Saya bisa mengatur formasi khusus untuk mengantisipasi unit dengan efek aneh atau menahan pasukan yang saya tahu bakal menyerang lebih awal. Ini bukan tebak-tebakan; ini murni perencanaan, dan setiap kemenangan terasa seperti hasil dari membaca situasi. Mekanik merge tiga unit sejenis menjadi satu versi yang lebih kuat juga bekerja persis seperti yang saya harapkan: ia memberi alasan untuk berburu unit yang sama, bukan sekadar membeli yang paling mahal, dan momen ketika tiga zombie saya menyatu jadi satu unit gemuk selalu terasa memuaskan.
Relik terlarang yang muncul di sela pertarungan membuat setiap run tidak pernah sama. Ada run di mana saya mendapat item yang memperkuat satu kolom penuh, dan tiba-tiba seluruh strategi saya berubah jadi menumpuk damage di satu garis. Ada juga item yang sekilas seperti lelucon, misalnya kail yang memanggil fish-man, sampai saya sadar kombinasinya cukup masuk akal untuk menutup lubang di formasi. Blessing dan curse yang saya pilih di titik tertentu menambah bumbu: bonus sumber daya yang menggiurkan, tapi musuh ikut menguat. Saya suka keputusan seperti ini karena semuanya terjadi cepat dan tidak menuntut saya membaca teks panjang sebelum kembali bertarung.
Soal pertarungan otomatisnya, di sinilah saya harus jujur: ini bagian yang paling sering membuat saya gelisah. Ada momen ketika saya ingin ikut campur karena melihat unit andalan dihajar tanpa bisa berbuat apa-apa, dan di beberapa pertarungan akhir saya sempat merasa penonton yang tak berdaya. Tapi begitu saya menerima bahwa ini permainan menyusun, bukan permainan menekan tombol, saya mulai menikmatinya terutama karena animasi serangannya enak dilihat dan opsi mempercepat pertarungan sangat berguna ketika hasilnya sudah jelas. Efek ledakan saat sebuah unit tumbang memberi umpan balik yang memuaskan, jadi menonton pertarungan tidak pernah terasa seperti melihat layar loading.
Progresi metanya yang bikin saya susah berhenti. Setiap akhir run saya mendapat buff permanen, dan pool karakter baru terbuka sedikit demi sedikit, dari werewolf dan zombie standar sampai opsi seperti kucing assassin dan madam yang gaya mainnya beda jauh. Ditambah lilin yang terus menyusut sebagai pengukur waktu, setiap run punya tempo yang jelas dan akhir yang tegang. Saya beberapa kali bilang "satu run lagi" padahal jam sudah lewat tengah malam, dan untuk ukuran pemain yang biasanya jaga jarak dengan permainan lambat, itu tanda bahaya yang jelas.
Dari sisi teknis, tidak ada keluhan serius. Game ini berjalan mulus di laptop tua saya yang sudah lelah maupun di PC biasa, dan saya tidak menemukan glitch atau masalah performa yang mengganggu. Dukungan controller penuh, dan main di Steam Deck enak sekali sampai-sampai saya lebih sering menuntaskan satu run di kasur daripada di meja kerja. Untuk game yang mengandalkan run pendek, kebebasan main seperti ini penting dan benar-benar saya hargai, apalagi di sini matchmaking bukan masalah karena semuanya berjalan lokal.
Secara visual, paletnya kaya dan cenderung jewel-tone, kontras dengan tema gelapnya. Sprite karakternya imut dalam arti yang agak menyeramkan, dan layar splash-nya punya identitas kuat. Musik serta efek suaranya membangun atmosfer ritual yang mencekam, walau saya akui tidak ada satu lagu pun yang saya cari di luar game. Presentasinya rapi dan konsisten dengan papan yang minimalis, tanpa satu pun elemen yang terasa berlebihan.
Ceritanya? Hampir tidak ada. Ini murni soal ritual, lilin, dan pertarungan antar pasukan kegelapan. Buat saya itu bukan masalah saya justru senang karena tidak ada dinding teks yang harus saya lalui sebelum bisa menyusun formasi. Tapi kalau Anda datang ke sini untuk narasi atau karakter yang punya arc, Anda tidak akan menemukannya, dan itu perlu diingat sebelum membeli.
Kekhawatiran terbesar saya untuk jangka panjang adalah keseimbangan. Dengan ruang sesempit sembilan slot, ada risiko kombinasi tertentu jadi terlalu dominan, dan di pengalaman saya beberapa run memang terasa sudah diputuskan setelah dua atau tiga putaran pertama, terutama ketika relik awal yang bagus muncul. Pool unit di jam-jam awal juga agak sempit, jadi run pertama sampai ketiga terasa agak mirip sebelum karakter dan relik baru masuk. Untungnya, saya masih terus menemukan alasan untuk mencoba build baru, sesuatu yang jarang saya rasakan bahkan di roguelite yang jauh lebih besar.
Kalau Anda penyuka auto-battler dan roguelite yang menuntut otak lebih dari refleks, Order Automatica gampang direkomendasikan. Papan kecilnya bukan keterbatasan, melainkan cara cerdas memaksa setiap keputusan punya bobot. Buat saya, ini salah satu game yang paling sulit saya lepaskan belakangan ini; bukan karena ceritanya, bukan karena skalanya, tapi karena loop persiapan yang selalu membuat saya ingin tahu apakah build berikutnya bakal berhasil.










