Ada satu momen di Maseylia: Echoes of the Past yang bikin saya berhenti sejenak, menatap layar, dan tersenyum sendiri. Bukan karena ceritanya, bukan pula karena visualnya yang cantik, tapi karena saya baru saja berhasil melewati rangkaian platforming yang menuntut kombinasi double jump, dash, dan grapple dalam hitungan detik, mendarat di batu yang langsung hancur, lalu melompat lagi melewati duri dan danau beracun. Sensasi itu betul-betul membuat saya ketagihan. Di situlah game buatan Sol Brothers ini berada di puncaknya. Sayangnya, di luar momen-momen itu, Maseylia adalah paket yang cukup timpang.

Buat yang belum tahu, Maseylia adalah metroidvania 3D yang jelas terinspirasi oleh Hollow Knight dan Metroid Prime. Semua upgrade di game ini berkutat pada traversal. Tidak ada senjata baru atau damage upgrade. Kamu dapat grapple, slide, dash, dan sejumlah kemampuan lain yang membuka area baru dan membuat pergerakan terasa makin asyik. Di awal-awal, upgrade datang sangat deras. Dalam satu jam pertama saya sudah mendapat tiga atau empat kemampuan baru. Saya sempat khawatir game ini kehabisan ide, tapi ternyata tidak. Memang makin ke belakang upgrade-nya makin jarang, tapi beberapa kemampuan akhir justru yang paling kreatif dan tidak terduga. Ada satu kemampuan late-game yang sampai sekarang masih saya ingat, dan saya sengaja tidak mau spoiler di sini.

Eksplorasi adalah jantung dari Maseylia, dan di sini game ini cukup berhasil. Lima area yang tersedia saling terhubung dengan pintasan dan rahasia yang bikin saya rela memutar otak. Tapi jujur saja, ada banyak momen saya benar-benar bingung harus ke mana. Game ini tidak memberi penanda atau petunjuk yang jelas, dan itu bukan masalah kalau desain dunianya selalu komunikatif. Sayangnya tidak. Beberapa kali saya merasa semua jalan yang terbuka hanya buntu, atau saya tidak punya kemampuan yang dibutuhkan. Peta di dalam game membantu, tapi juga punya masalah sendiri. Peta ini cukup detail, menunjukkan lokasi ability, health, dan halaman jurnal yang terlewat. Tapi ada kalanya ikon karakter saya berada di area kosong yang hitam karena peta belum ter-update, atau ikon ability yang sudah saya ambil masih tetap muncul, bikin saya bolak-balik nyari barang yang tidak ada. Untungnya setelah beberapa jam saya mulai paham cara kerja peta ini, dan rasa tersesat itu perlahan hilang.

Sayangnya, hal yang paling saya tunggu-tunggu di metroidvania, yaitu combat, justru menjadi titik terlemah. Musuh di Maseylia sangat repetitif. Mayoritas cuma menembakkan proyektil lengket ke berbagai arah, dengan beberapa variasi kecil. Dengan dua senjata andalan, tongkat dan bow tanpa batas amunisi, saya akhirnya memilih bertarung dari jarak aman dan menyelesaikan hampir semua encounter dengan cara yang sama. Boss juga mengecewakan. Mereka terlihat mengancam, tapi pola serangannya minim dan mudah ditebak. Saya berhasil mengalahkan beberapa boss hanya dengan spam bow dan menghindar seperlunya. Padahal pergerakan yang begitu mulus seharusnya bisa menghasilkan pertarungan yang seru, seperti yang sering dilakukan Hollow Knight. Di sini potensi itu tidak tergali.

Soal progression, Maseylia memakai sistem uang dan charm. Musuh yang dikalahkan menjatuhkan cash, dan cash bisa dipakai untuk upgrade peta, membuka fast travel, menambah kantong emas, atau membeli HP tambahan. Ada juga charm yang memberikan bonus pasif, seperti heal saat bergerak atau tambahan cash. Sistem charm ini sebenarnya menarik karena setiap charm butuh slot, jadi kamu harus pilih-pilih. Tapi masalahnya, slot charm tidak bisa di-upgrade, jadi sebagian besar charm yang saya temukan akhirnya nganggur. Ini terasa seperti peluang yang disia-siakan. Untungnya, saya tipe pemain yang betah grinding kalau hadiahnya datang teratur. Di Maseylia, setiap sesi eksplorasi selalu memberi sesuatu, entah uang, charm, atau upgrade, jadi saya tetap betah.

Yang benar-benar membuat game ini layak dimainkan adalah platforming presisinya. Level design untuk bagian traversal terasa sangat dipikirkan. Tantangannya bukan sekadar melompat dari platform ke platform, tapi memadukan banyak kemampuan sekaligus dalam satu rangkaian cepat. Saya ingat betul bagaimana detak jantung saya naik saat harus melewati serangkaian batu yang runtuh, menghindari spike yang waktunya pas, dan mengatur napas sebelum melakukan lompatan terakhir. Setiap keberhasilan memberi kepuasan yang sangat besar. Hanya saja, save point-nya terlalu jarang. Saat mati, saya harus mengulang bagian yang cukup panjang, dan itu sempat bikin saya hampir melempar controller.

Dari segi visual, Maseylia jelas meminjam gaya Sable. Palet warnanya lembut, karakter dan lingkungannya punya identitas visual yang kuat, dan setiap area terlihat seperti lukisan yang bergerak. Dunia surreal-nya terasa unik, dan saya suka bagaimana game ini tidak takut menampilkan hal-hal aneh yang tidak bisa ditebak. Musiknya juga mendukung atmosfer, walau lebih sering berada di latar belakang. Awalnya saya merasa musiknya kurang menonjol, tapi ketika saya matikan di opsi, suasana permainan jadi terasa kosong. Mungkin itu tanda musiknya berhasil bekerja diam-diam.

Secara teknis, game ini cukup kasar. Transisi cutscene sering terasa patah dan tiba-tiba. Karakter kadang tenggelam di tanah atau kamera menembus dinding. Ada satu bug parah di playthrough saya: bow tiba-tiba berhenti berfungsi dan baru kembali normal setelah saya mati. Ada juga musuh yang diam membeku dan tidak menyerang. Kalau game lain, saya mungkin sudah uninstall. Tapi entah kenapa, di Maseylia kekurangan ini terasa seperti bagian dari karakternya. Dunianya memang aneh dan tidak sempurna, jadi bug-bug itu terasa … cocok. Bukan berarti saya memaafkan semuanya, tapi game ini membuat saya lebih sabar daripada biasanya.

Narasi di Maseylia hadir dalam bentuk remah-remah cerita yang tersebar. Tidak ada dialog panjang yang mengganggu, dan saya justru suka caranya bercerita yang tidak menggurui. Tapi memang story-nya bukan daya tarik utama. Saya lebih ingat momen-momen gameplay daripada lore yang disampaikan. Buat yang mencari cerita dalam, mungkin akan kurang puas. Tapi buat saya yang memang lebih mementingkan mekanik dan replayability, ini bukan masalah besar. Meski begitu, saya tidak yakin bakal langsung main lagi setelah menyelesaikannya. Selesai sudah, mungkin nanti kalau kangen platforming saja.

Maseylia: Echoes of the Past bukan game yang sempurna. Combat dan boss-nya lemah, peta kadang menyebalkan, dan banyak bug kecil yang seharusnya dibereskan. Tapi platforming-nya adalah salah satu yang paling seru dan kreatif yang pernah saya mainkan, dan eksplorasinya berhasil membuat saya terus penasaran. Ini game yang kasar, tapi punya hati. Kalau kamu mencari metroidvania yang fokus pada pergerakan dan tidak terlalu peduli pada pertarungan yang dalam, Maseylia layak masuk daftar. Tapi kalau combat adalah prioritas utama, mungkin kamu akan kecewa. Saya sendiri? Saya sudah menangis bahagia melewati platforming itu, dan itu cukup buat saya merekomendasikannya.

Leave your vote

100k Points
Upvote Downvote