Beberapa minggu terakhir saya habiskan di Arms of God, dan jujur saja, game ini mencuri perhatian saya lebih dari yang saya duga. Sebagai orang yang tumbuh besar dengan game-game PC-kafe dan kebiasaan ngabisin waktu di game online, saya selalu suka game yang langsung menghargai waktu saya. Arms of God tidak main-main. Begitu masuk, saya langsung disuruh bertahan di arena gelap, menghadapi gelombang iblis, dan membangun build yang makin gila. Tidak ada babak pembuka yang panjang, tidak ada dialog bertele-tele. Yang ada cuma aksi, darah, dan metal.
Game ini jelas menganut aliran bullet heaven ala Vampire Survivors atau Brotato, tapi dengan bungkus yang lebih gelap dan agresif. Saya bermain sebagai seorang Templar, lengkap dengan lengan mekanis yang muncul dari punggung, dan tugas saya sederhana: membantai iblis sampai tidak tersisa. Ada sepuluh karakter yang bisa dipilih, masing-masing punya ciri khas tersendiri. Saya awalnya ragu, tapi setelah beberapa run, saya mulai menemukan karakter favorit dan mencoba berbagai gaya bermain.
Kontrolnya menyenangkan dan responsif. Kita hanya perlu fokus pada gerakan, dash, dan kadang teleport singkat. Ini penting karena di akhir run, layar bisa dipenuhi proyektil, tubuh iblis yang meledak, dan efek elemen yang bertebaran. Jika kontrolnya tidak enak, semua kekacauan itu akan terasa menyiksa. Untungnya, Arms of God membuat saya selalu merasa bisa membaca situasi. Saya bisa meliuk di antara tembakan, mendekat untuk serangan jarak dekat, atau mundur sejenak untuk mengatur napas.
Sistem senjata adalah jantung dari game ini. Saya bisa membawa sampai lima senjata sekaligus, dari pistol, senapan, pedang, sampai alat-alat suci yang aneh. Tapi yang bikin ketagihan adalah sistem attachment dan blessing. Attachment bukan sekadar tambahan stat persentase, tapi bisa mengubah perilaku senjata secara signifikan. Sebuah senjata yang tadinya biasa bisa berubah menjadi alat penghancur massal setelah satu atau dua upgrade. Kemudian ada sistem merge atau penggabungan: menggabungkan dua senjata yang sama menghasilkan versi lebih kuat, sementara menggabungkan senjata berbeda bisa memindahkan stat dan membebaskan slot. Setiap keputusan terasa berarti, dan saya sering menghabiskan waktu di layar upgrade untuk memikirkan build terbaik.
Ada juga sistem crux yang menambah lapisan strategi. Di awal level, karakter saya menancapkan salib besar di tengah arena. Selama saya berdiri di radiusnya, saya mendapat buff. Jika saya mengumpulkan cukup jiwa, salib itu bisa di-upgrade di akhir stage, membuat zona aman itu semakin berguna. Tentu saja, arena tidak selalu mengizinkan saya diam di satu tempat. Kadang saya harus memilih antara bertahan di zona aman atau keluar untuk mengambil item penting. Keputusan seperti ini yang membuat tiap run terasa beda, walaupun levelnya secara visual sering terlihat mirip.
Berbicara soal level, salah satu kelemahan yang paling saya rasakan adalah repetisi. Ada banyak stage dalam game ini, tapi sebagian besar terlihat seperti katedral atau lapangan yang suram dan tidak banyak berubah. Setelah run kesekian, saya mulai bosan dengan pemandangan yang itu-itu saja. Saya paham ini game arena, tapi variasi visual yang lebih kaya akan sangat membantu. Untungnya, variasi musuh cukup baik, sehingga saya masih bisa membedakan prioritas incaran. Ada musuh yang mengejar, ada yang menembak, ada yang meledak, dan semuanya punya pola serangan yang harus dipelajari.
Boss fight juga bisa dibilang campuran. Desain boss-nya keren dan menegangkan, tapi syarat kemenangannya terlalu memaafkan. Kita bisa menang dengan membunuh bos atau cukup bertahan selama waktu tertentu. Saya tidak terlalu suka opsi kedua. Setelah susah payah membangun build yang super kuat, saya ingin menguji kemampuan saya dengan benar-benar menghabisi bos, bukan cuma lari-lari sampai waktu habis. Memang opsi ini berguna kalau build saya gagal, tapi justru itu yang membuat klimaks terasa kurang memuaskan.
Di luar run, meta progression terikat pada pembangunan katedral. Saya mengumpulkan berbagai mata uang dari setiap pertandingan, lalu menggunakannya untuk membuka peningkatan permanen, senjata baru, dan blessing. Sistem ini bikin saya ketagihan, walaupun kadang terasa lambat. Ada kalanya setelah menghabiskan dua puluh menit dan kalah, saya cuma bisa membeli satu upgrade kecil. Tapi karena saya tipe gamer yang sabar dengan grinding selama ada reward, saya tetap betah. Justru rasa puas saat katedral mulai terbangun dan karakter saya semakin kuat itu yang bikin saya balik lagi.
Secara visual, Arms of God memang gelap dan brutal, tapi cukup jelas. Efek partikel dari senjata dan ledakan memuaskan, dan setiap musuh mati dengan cara yang berantakan, meledak jadi darah dan potongan tubuh. Ini bukan game untuk yang lemah jantung, tapi justru itulah daya tariknya. Saya suka cara game ini menciptakan suasana horor religius tanpa perlu banyak dialog. Ketika salib, lilin, dan ikonografi gereja dipadukan dengan metal dan darah, hasilnya terasa sangat khas.
Soundtrack-nya mungkin salah satu yang terbaik di genre ini. Musiknya jelas terinspirasi DOOM, dengan riff gitar yang berat dan synth yang agresif. Lagu-lagunya mengikuti durasi tiap wave dengan tempo yang pas, sehingga setiap pertempuran terasa semakin intens. Saya sering tidak sadar kalau sudah mengepalkan tangan saat lagu masuk ke bagian chorus. Sound effect-nya juga mantap, dari letusan senjata hingga jeritan iblis.
Dari segi teknis, saya tidak menemukan masalah besar. Saya mencoba di PC dan sempat juga di Steam Deck, dan keduanya berjalan mulus. Layar bisa sangat ramai, tapi framerate tetap stabil. Ini penting untuk game sekacau ini. Semoga versi finalnya tetap sehalus ini.
Satu hal yang belum saya bahas adalah mode co-op. Arms of God mendukung co-op sofa, tapi setelah mencobanya sebentar, saya merasa layar menjadi terlalu semrawut. Saat dua pemain sama-sama meluncurkan skill dan memicu efek, hampir mustahil melacak karakter sendiri di tengah kekacauan. Mungkin ini hanya masalah penyesuaian, tapi buat saya, game ini lebih nikmat dimainkan solo.
Sebagai Early Access, Arms of God jelas punya ruang untuk berkembang. Saya ingin lebih banyak variasi level, keseimbangan ekonomi yang lebih baik, dan mungkin cerita yang lebih dalam. Tapi yang terpenting, inti gameplay-nya sudah sangat solid. Sistem senjata dan merge-nya membuat saya selalu ingin mencoba satu run lagi, dan soundtrack-nya membuat darah saya mendidih. Kalau kalian penggemar bullet heaven yang bosan dengan game-game yang terlalu manis, Arms of God adalah pilihan yang sangat pas.



